OBORBANGSA.COM, JAKARTA – Dinamika 100 hari pertama kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono–Rano, dibedah dalam kegiatan diskusi buku Jakarta Menyala yang digelar di Gedung A, Ruang Ali Sadikin, Lantai 1, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (11/2/2026) pukul 13.00 WIB.
Buku karya Frans Ekodhanto tersebut merekam berbagai kebijakan, program prioritas, serta dinamika pemerintahan pada fase awal kepemimpinan Pramono–Rano. Tak sekadar dokumentasi, buku ini juga menjadi catatan reflektif mengenai arah pembangunan Jakarta yang menitikberatkan pada pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan penguatan partisipasi masyarakat.
Asisten Pemerintahan Wali Kota Jakarta Barat, Holi Susanto, yang hadir mewakili Wali Kota Iin Mutmainnah, menyebut kegiatan ini sebagai ruang refleksi yang penting.
“ Bedah buku Jakarta Menyala menjadi momentum untuk melihat capaian sekaligus tantangan pemerintahan DKI Jakarta dalam 100 hari pertama kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur,” ujar Holi.
Menurutnya, forum literasi seperti ini membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.
“Melalui diskusi terbuka, masyarakat dapat memahami arah kebijakan sekaligus memberikan masukan konstruktif bagi pembangunan Jakarta ke depan,” tambahnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, Muhamad Matsani, menilai buku tersebut memiliki nilai strategis dalam memperkuat literasi politik publik.
“Buku ini bukan hanya mendokumentasikan kebijakan, tetapi juga menjadi sarana edukasi politik agar masyarakat memahami proses dan arah pemerintahan daerah,” kata Matsani.
Senada, Tenaga Ahli Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Reinhard Sirait, menegaskan bahwa 100 hari pertama merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan program.
“Pada fase awal inilah dasar kebijakan diletakkan, yang nantinya akan berdampak jangka panjang bagi pembangunan Jakarta,” ujarnya.
Sementara itu, penulis buku, Frans Ekodhanto, menjelaskan bahwa Jakarta Menyala disusun sebagai dokumentasi sekaligus refleksi kritis atas perjalanan awal kepemimpinan Pramono–Rano.
“Saya ingin buku ini menjadi catatan terbuka mengenai capaian, tantangan, dan harapan dalam 100 hari pertama. Harapannya, masyarakat dapat ikut mengawal jalannya pemerintahan,” jelasnya.
Kegiatan ini juga dihadiri Kevin Fransico, Staf Ahli Komisi A DPRD DKI Jakarta, yang mewakili Anggota DPRD Komisi A Hilda Kusuma Dewi. Ia menilai bedah buku menjadi jembatan penting antara kebijakan eksekutif dan fungsi pengawasan legislatif.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa 100 hari pertama kepemimpinan Jakarta bukan sekadar angka, melainkan fase krusial yang menjadi pijakan arah pembangunan ibu kota ke depan. (Mega)













