OBORBANGSA.COM, BOGOR – Teras Kebinekaan hadirkan sejumlah cendekiawan dalam acara bedah buku karya Ogde B. Ada berjudul “Investing Game Theory (IGT): Bagaimana Menjadi Kaya, Bahagia, dan Sejahtera” (Penerbit Buku Kompas, 2025).
Sejumlah cendekiawan hadir dalam acara ini: Moh. Shofan (Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan), Rikard Bagun (Anggota Dewan Pengarah BPIP), Sugeng Bahagijo (Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat), Budhy Munawar-Rachman (Dosen STF Driyarkara), M. Adlin Sila (Dosen Antropologi FISIP UI), Ahmad Gaus AF (Head of Project Esoterika), Abdullah Sumrahadi (Dosen President University), dan Saefudin Zuhri (Pendiri Madani Connection). Mereka membedah buku ini dari lintas disiplin, baik aspek ekonomi, sosiologi, agama, maupun filsafat.
Acara ini dimoderatori oleh Milastri Muzakkar (Founder Generasi Literat).
Dalam sambutannya, Moh. Shofan selaku Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan mengatakan bahwa buku ini merupakan karya reflektif yang berada di persimpangan antara spiritualitas, filsafat, dan kritik sosial.
“Buku ini tidak disusun sebagai karya akademik formal, melainkan sebagai refleksi intelektual yang lahir dari kegelisahan penulis terhadap realitas keberagamaan manusia modern,” tegas Shofan.
Kegiatan ini, menurutnya, dirancang sebagai ruang dialog reflektif untuk menggali bagaimana integrasi wahyu, filsafat, dan sains dapat menjawab tantangan peradaban modern.
“Buku ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dan filosofis dapat berpadu dalam membangun kehidupan yang bermakna—baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjut Shofan.
Lebih jauh, menurutnya, buku ini mengajak pembaca untuk mengamalkan, menghayati, dan memikirkan kembali makna “Iqra” (membaca realitas secara kritis) dan “Rahmatan” (memberi manfaat bagi sesama) sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.
Dalam paparannya, Budhy Munawar-Rachman menyebut IGT sebagai sebuah “eksperimen intelektual yang berani”. Menurutnya, buku ini berdiri di antara teks motivasi, teologi, dan risalah filsafat untuk menjawab bagaimana manusia bisa hidup sejahtera tanpa kehilangan akal budi dan iman.
“Intisari pemikiran yang ditawarkan penulis buku IGT terletak pada ‘permainan’ strategis antara memberi (investing) dan mengambil, di mana hukum tertinggi kehidupan adalah memberikan manfaat (rahmatan) bagi sesama,” jelas Budhy.
Sementara, Rikard Bagun menyoroti sisi dampak sosial yang berpotensi dilahirkan oleh buku karya Ogde B. Ada ini.
Menurutnya, “Buku ini akan sangat menarik apabila tidak sekadar menjadi bahan bacaan, melainkan sebagai bahan perdebatan karena melibatkan aspek-aspek personal, sosial, intelektual, dan emosional,” tegas Rikard Bagun.
Lebih jauh Bagun menyebut buku ini sebagai sarana menuju masalah yang lebih fundamental, yaitu bagaimana mencapai kebenaran.
“Jalan untuk menggapai kebenaran seperti diperlihatkan buku IGT tidaklah linier tapi spiral dan sering kali menunjukkan sebuah patahan, ‘creative destruction’. Di buku ini, kegelapan tidak dikutuk tapi dihayati. Kita tidak hanya membutuhkan siang, tapi juga malam,” tegas Bagun.
Sugeng Bahagijo menyoroti keunikan posisi buku IGT. Menurutnya, “Buku IGT secara substansial ditujukan kepada para pembaca tingkat advance, tapi secara pengemasan sangat accessible bagi siapa saja.”
Lebih jauh Sugeng mengatakan buku ini menyoroti bagaimana melatih disiplin individu dan jati diri untuk bisa bangkit serta bebas, sehingga secara time management menjadi baik dan pikiran menghargai kebinekaan. “Buku ini sangat orisinal, dalam konteks Indonesia belum ada padanannya,” tegas Sugeng.
M. Adlin Sila menambahkan, buku IGT melatih pembaca untuk berpikir kritis. “Akal sangat penting. Bukan berarti agama tidak penting, tapi akal memberi navigasi agar kita tidak terlarut pada emosi keagamaan,” ujar Sila.
Abdullah Sumrahadi berpendapat bahwa melalui buku IGT, sang penulis ingin menarasikan pengalaman hidupnya yang kaya dalam sebuah karya. Tersirat dari buku ini, “Penulisnya seolah ingin menyampaikan pesan mendalam bahwa segala sesuatu harus ada kajian lebih mendalam, memusatkan perhatian pada esensi, tidak sekadar mengikuti SOP. Pahami, adaptasi, dan laksanakan,” tegas Sumrahadi.
Acara ini digelar di kantor Teras Kebinekaan, Jl. H. Mawi, Parung, Bogor, dan diakhiri dengan buka puasa bersama.













