OBORBANGSA.COM, ACEH – Perkembangan jumlah daerah darurat bagi korban banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh mengalami penurunan signifikan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan perkembangan penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, saat ini tinggal dua kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang masih melanjutkan status tanggap darurat.
“Kalau tadi Bapak Mendagri mengatakan masih ada 11 yang perlu atensi khusus, dari sudut penanganan bencana tinggal dua kabupaten yang menetapkan atau melanjutkan status tanggap darurat, yaitu di Aceh,” tuturnya
“Yang pertama adalah Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang. Sementara yang lainnya baik di Sumatera Barat, di Sumatera Utara semuanya sudah masuk dalam fase transisi darurat ke pemulihan,” lanjutnya.
Ia menegaskan, hal itu berarti secara tingkat kabupaten dan provinsi, seluruhnya sudah mengarah pada kondisi yang lebih baik.
“Jadi artinya meskipun masih banyak permasalahan di desa, di kecamatan, tapi secara kabupaten, secara provinsi, semuanya sudah mengarah ke arah yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan data jumlah pengungsi yang berkurang hingga lebih 95 persen per 10 Februari 2026.
Berdasarkan data dari lapangan, kata dia, jumlah pengungsi saat ini tinggal 47.462 jiwa yang tersebar di beberapa titik.
“Kalau rekan-rekan media mencatat puncak pengungsi tanggal 8 Desember 2025 itu sampai 1.057.482 jiwa, per tanggal 10 Februari kemarin ini jumlahnya setelah dihitung langsung di lapangan sudah tinggal 47.462 jiwa,” jelasnya.
“Jadi terdapat penurunan yang cukup signifikan berkurang 95,51 persen. Nah, dari 47.462 ini tersebar ada empat titik mereka melaksanakan pengungsian.”
Pertama, pengungsi di gedung pemerintah berjumlah 5.817 KK. Rinciannya, Aceh 5.185 KK, Sumut 472, dan Sumbar 160 KK.
“Kemudian juga masih ada yang tinggal di meunasah atau masjid ini di Aceh. Kemudian juga ada yang mengungsi mandiri. Mandiri adalah menyewa, tinggal di rumah sanak saudara, ada 10.776 KK ini sudah diberikan dana tunggu hunian yang tadi disebutkan oleh Bapak Kasatgas jumlahnya adalah Rp1.800.000,” bebernya.
DTH tersebut diberikan untuk Bulan Desember, Januari, dan Februari. Nantinya jika pada akhir bulan ini hunian tetapnya belum selesai maka akan ditambah dana tunggu hunian untuk tiga bulan ke depan.
“Tentu saja ini sudah masuk Februari sampai tanggal 28 Februari, apabila huntapnya belum jadi, ini nanti ditambah untuk dana tunggu hunian tiga bulan berikutnya.”
“Nah, kemudian yang masih ada tinggal di tenda-tenda itu ada 21.193 KK. Nah, yang tinggal di tenda ini menjadi sasaran, agar dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa dipindahkan ke hunian sementara, atau mereka bisa juga menambah dana tunggu hunian,” jelasnya.













