Oborbangsa.com Jakarta – Setiap langkah di atas tanah Kamboja terasa berat bagi Septi Surya Rusmana. Hampir dua bulan lamanya, ia terlantar jauh dari kampung halamannya di Garut – jauh dari aroma tanah lembab Desa Leuwigoong, jauh dari suara kerumunan di Kampung Cibingbin RT002/002 yang selalu membuatnya merasa ada di tempatnya. Sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), harapan untuk kembali ke Indonesia hanya tinggal titik kecil di ujung hati yang sudah hampir padam.
Hingga suatu hari, kabar bantuan datang seperti sinar matahari yang menerangi pagi yang mendung. Wakil Ketua Komisi I DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat, Anton Sukartono Suratto, mendengar cerita tentang nasib Septi.
Tanpa ragu, ia langsung bergerak bekerja sama erat dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk membuka jalan bagi kepulangan seorang anak negeri yang terlantar. Rabu (4/3/2026), di depan kantor Kedutaan RI yang menjulang megah di tengah kota Kamboja, wajah Septi yang biasanya pucat dan lesu kini bersinar dengan rasa lega yang tak ternilai.
Dalam rekaman video yang diterima redaksi, tangis haru hampir membanjiri matanya saat ia membuka suara:
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat siang. Perkenalkan saya Septi Surya Rukmana berasal dari Garut Jawa Barat. Sudah lama ingin pulang ke Indonesia. Alhamdulillah, saat ini saya sudah bisa pulan,” tulis Septi, Rabu (4/3/2026)
Suaranya sedikit bergetar, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan keyakinan dan harapan yang baru lahir. Mata yang selama ini hanya melihat kegelapan kini terpancar cahaya syukur yang mendalam.
Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terima kasih yang tak terbatas kepada semua pihak yang telah menjadi pelita dalam perjalanan panjangnya ini. Khususnya kepada Pak Anton, yang dengan penuh perhatian menjadi ujung tombak dalam setiap langkah proses kepulangannya dari mengurus berkas hingga memastikan semua kebutuhannya terpenuhi selama menunggu hari pulang tiba.
“Tanpa bantuannya, saya tidak tahu kapan bisa kembali ke tanah air,” ucap Septi sambil mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.
“Juga kepada Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI yang telah menangani segala urusan administrasi dengan cermat, dan selalu ada untuk memberikan dukungan saat saya merasa terpuruk.” sambung Septi.
Di akhir pesannya, doa tulus pun terucap dari dalam hati yang sudah penuh dengan kebaikan:
“Semoga segala kebaikan bapak, semua pihak berikan kepada saya dibalas dengan kebaikan lagi. Sekali lagi banyak terima kasih, Demokrat Jawa Barat Pak Anton semoga selalu sehat, lancar segala aktivitasnya. Tak lupa untuk pak Ahmad Bajuri yang telah menyambungkan masalah ini semoga mendapatkan balasan rezeqi yang lebih besar dari Allah Subhanahu wata’alla,” tutur Septi dalam unggahan medsos pribadinya.
Saat kata-katanya berhenti, air mata haru akhirnya menetes di pipinya. Bagi Septi, pulang ke Indonesia bukan hanya tentang menemukan jalan kembali ke rumah itu adalah tentang menemukan kembali harapan, rasa memiliki, dan bukti bahwa kebaikan masih hidup di hati sesama anak bangsa.













