OBORBANGSA.COM, TANGERANG SELATAN – Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Tang-Kot bersama Aliansi Lintas Aktivis, LSM, LBH, Aktivis Panunggangan Utara, dan Aktivis Sepatan menggelar aksi damai di depan Mapolres Tangerang Selatan, Kamis (18/6/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap dugaan kriminalisasi terhadap seorang korban selamat dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah hukum Polres Tangerang Selatan.
Massa menilai penanganan perkara oleh penyidik Satlantas Polres Tangsel terkesan mengarah pada upaya menjadikan korban selamat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.
Kronologi Singkat Versi Keluarga Korban Selamat
Menurut keterangan keluarga, kecelakaan lalu lintas tersebut melibatkan dua pengendara sepeda motor, di mana satu korban meninggal dunia dan satu korban lainnya mengalami luka berat.
Korban yang selamat sempat menjalani perawatan medis dengan keterbatasan biaya. Keluarga mengaku harus memindahkan perawatan ke rumah sakit milik pemerintah agar biaya pengobatan lebih terjangkau.
Keluarga korban selamat juga mengungkap adanya dugaan tekanan dari pihak tertentu. Mereka mengaku pernah berupaya memberikan bantuan secara sukarela kepada keluarga korban meninggal menjelang acara 100 hari wafatnya almarhum. Namun bantuan tersebut ditolak dan disertai permintaan uang dalam jumlah besar.
Menurut pengakuan keluarga korban selamat, mereka sempat mendapat ancaman bahwa perkara akan kembali diproses hukum apabila tidak memenuhi permintaan tersebut. Padahal sebelumnya kedua belah pihak telah menandatangani surat pernyataan damai dan tidak saling menuntut.
Massa Soroti Pelayanan Polres Tangsel
Dalam orasinya, para peserta aksi menilai penanganan kasus harus dilakukan secara objektif dan berdasarkan alat bukti yang kuat.
“Korban selamat dan korban meninggal sama-sama merupakan korban dari sebuah musibah. Jangan sampai korban yang masih hidup justru dijadikan pihak yang harus menanggung seluruh beban perkara tanpa proses yang transparan,” ujar salah satu orator.
Massa juga menyoroti minimnya respons dari jajaran Polres Tangerang Selatan. Selama lebih dari satu jam aksi berlangsung, tidak ada pejabat utama maupun perwakilan humas yang menemui massa.
Koordinator Lapangan aksi, Cecep Yuliardi, menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan publik yang diberikan saat aksi berlangsung.
“Ini menjadi catatan serius. Kami datang menyampaikan aspirasi secara damai, namun tidak ada perwira yang menemui massa selama lebih dari satu jam. Kami berharap Kapolda Metro Jaya memberikan perhatian terhadap kondisi ini,” tegas Cecep.
Dialog dengan Penyidik Gakkum
Situasi mulai mencair setelah Kanit Gakkum Satlantas Polres Tangsel, Ipda Dimas, menemui massa dan berdialog secara langsung.
Dalam keterangannya, Ipda Dimas menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan oleh para peserta aksi dan memastikan bahwa seluruh aspirasi akan menjadi bahan evaluasi dalam penanganan perkara.
“Kami turut berduka atas musibah yang terjadi. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kecelakaan. Aspirasi yang disampaikan akan kami pelajari dan kaji kembali sesuai mekanisme yang berlaku,” ujarnya di hadapan massa.
Tiga Tuntutan Utama Massa
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Polres Tangerang Selatan, antara lain:
Melakukan pemeriksaan ulang (BAP ulang) dan gelar perkara khusus dengan melibatkan ahli independen dari Polda Metro Jaya.
Memberikan perlindungan terhadap korban selamat dari segala bentuk intimidasi maupun tekanan.
Membuka akses informasi perkembangan perkara (SP2HP) secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku.
Meminta pengawasan dari Propam atau Paminal terhadap proses penyidikan guna memastikan profesionalitas aparat.
Ancam Gelar Aksi Lanjutan
Massa menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak mendapatkan respons dalam waktu 2×24 jam sejak aksi pertama dilaksanakan.
Rencana tindak lanjut yang disiapkan antara lain menggelar aksi di Polda Metro Jaya, melaporkan persoalan tersebut ke Kompolnas, Ombudsman RI, hingga Mabes Polri, serta membawa isu tersebut ke perhatian publik melalui berbagai media nasional.
Aksi berlangsung dalam keadaan tertib dengan pengawalan aparat keamanan hingga seluruh peserta membubarkan diri. (Mega)













