Oborbangsa.com Jakarta – Anggapan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebutkan tingkat kepuasan kinerja Presiden Prabowo Subianto turun menjadi 51,1 persen dinilai sangat diragukan keabsahannya. Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai temuan tersebut mengandung banyak kejanggalan dan berpotensi bukan merupakan gambaran pendapat publik yang sesungguhnya.
“Saya sangat menduga hasil survei SMRC ini tidak jujur dan berbau rekayasa. Hal pertama yang harus ditanyakan adalah indikator apa yang digunakan untuk mengukur kepuasan, siapa saja yang dijadikan responden, serta bagaimana cara penarikan sampelnya,” tegas Jerry Massie.
Ia mencurigai banyak responden diambil dari lingkungan media sosial yang rawan akun tidak aktif, akun palsu, maupun kelompok yang dikoordinir secara khusus. “Saya curiga sampelnya justru banyak diambil dari akun bodong, buzzer, atau kalangan tertentu seperti relawan masa lalu, bukan mencerminkan keragaman masyarakat Indonesia yang sesungguhnya,” ujarnya.
Jerry menekankan agar SMRC transparan membuka data dasar responden, mulai dari identitas, alamat tempat tinggal, pekerjaan, usia, hingga status kependudukan. “Jika tempat tinggalnya di luar negeri atau usianya baru 15 tahun, mereka jelas tidak memenuhi syarat sebagai bagian dari pemilih maupun masyarakat yang terkena dampak langsung kebijakan. Ini sangat ngawur jika sampelnya melenceng begitu,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menyoroti riwayat dan kedekatan lembaga tersebut. “Perlu diketahui, SMRC kerap dianggap memiliki kedekatan dengan jaringan pendukung pemerintahan sebelumnya, bahkan Saiful Mujani sendiri pernah dilaporkan terkait masalah terkait kredibilitas lembaganya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa survei ini merupakan pesanan untuk tujuan tertentu,” jelasnya.
Ia juga membandingkan dengan hasil survei kinerja Wapres Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya berada di kisaran 30 persen. “Pola ini terlihat jelas: angka-angka yang ditampilkan justru berpotensi merusak nama baik Presiden Prabowo dan melemahkan stabilitas pemerintahan. Padahal, jika dilakukan dengan jujur dan objektif, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah saat ini seharusnya berada di kisaran 65 hingga 75 persen, bahkan bisa lebih tinggi,” papar Jerry.
Menurutnya, hal ini sangat kontras dengan standar lembaga survei terpercaya di Amerika Serikat seperti Rasmussen, Emerson, Fox News, maupun Harvard Quinnipiac. “Di sana, metode, kerangka sampel, dan profil responden dijelaskan secara terbuka dan dapat diverifikasi, tidak ada kesan pesanan. Sangat aneh jika di satu momen tingkat kepuasan bisa tembus 80 persen, lalu tiba-tiba merosot tajam ke angka 30-an persen atau di bawah 60 persen tanpa alasan yang jelas dan terukur,” tandasnya.
Jerry menegaskan, publik berhak mendapatkan informasi yang jujur. Oleh karena itu, SMRC wajib mempublikasikan secara lengkap metodologi, kerangka sampel, profil responden, serta margin of error yang digunakan agar dapat diuji kebenarannya.













