OBORBANGSA.COM, Desa Cikatapis, Kabupaten Lebak — Civitas akademika Poltekkes Kemenkes Banten Jurusan Kebidanan Rangkasbitung melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) berupa edukasi mengenai Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) bagi kader Posyandu di Desa Cikatapis, wilayah kerja Puskesmas Kalang Anyar. Kegiatan dilaksanakan pada 4 Mei 2026 dan diikuti oleh 30 kader.
Kegiatan Pengmas ini merupakan bagian dari upaya civitas akademika Poltekkes Kemenkes Banten untuk berkontribusi dalam peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya kader kesehatan, mengenai pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan pada bayi baru lahir.
Dalam kegiatan tersebut, civitas akademika Poltekkes Kemenkes Banten Jurusan Kebidanan Rangkasbitung memberikan edukasi mengenai tujuan SHK, dampak hipotiroid kongenital pada bayi, cara dan tempat pemeriksaan, serta peran kader dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil, ibu nifas, dan keluarga.

Hipotiroid kongenital perlu mendapat perhatian karena sebagian besar bayi dengan kondisi tersebut tidak menunjukkan gejala yang jelas saat lahir. Apabila tidak segera terdeteksi dan ditangani, kondisi tersebut dapat berdampak pada perkembangan motorik, kemampuan bicara, serta fungsi intelektual anak. Karena itu, deteksi dini melalui SHK menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Pengetahuan Kader Meningkat Setelah Edukasi
Kegiatan Pengmas tersebut menunjukkan hasil positif. Pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah kader memperoleh edukasi mengenai SHK.
Sebelum edukasi, sebanyak 16 dari 30 kader (53 persen) berada pada kategori pengetahuan kurang, sedangkan 14 kader (47 persen) berada pada kategori cukup. Tidak terdapat kader yang berada pada kategori pengetahuan baik.
Setelah mendapatkan edukasi dari civitas akademika Poltekkes Kemenkes Banten Jurusan Kebidanan Rangkasbitung, sebanyak 28 kader (93,3 persen) berada pada kategori pengetahuan baik dan 2 kader (6,7 persen) berada pada kategori cukup. Tidak terdapat lagi kader dengan kategori pengetahuan kurang.
Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader setelah mengikuti edukasi tentang Skrining Hipotiroid Kongenital.
Penguatan Peran Kader melalui Monitoring dan Evaluasi
Untuk memastikan keberlanjutan hasil edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi tahap pertama dan kedua dilaksanakan pada 6 Juni dan 20 Juni 2026 di empat Posyandu, yaitu Posyandu Kenanga, Melati, Plamboyan, dan Cempaka.

Hasil monitoring menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mulai diterapkan oleh kader. Ibu hamil yang datang ke Posyandu mampu mengulang materi mengenai SHK pada bayi baru lahir, menjelaskan manfaat skrining, serta menunjukkan cara pemeriksaan SHK.
Kegiatan tersebut turut didukung oleh bidan desa, kader Posyandu, dan pihak Puskesmas dalam pelaksanaan edukasi serta monitoring.
Membangun Generasi Sehat melalui Deteksi Dini
Civitas akademika Poltekkes Kemenkes Banten Jurusan Kebidanan Rangkasbitung berharap kegiatan Pengmas ini dapat memperkuat kemampuan kader sebagai penyampai informasi kesehatan di tengah masyarakat.
Keberlanjutan kegiatan diharapkan dapat dilakukan melalui sinergi antara kader Posyandu, bidan desa, Puskesmas, dan Pemerintah Desa Cikatapis. Edukasi mengenai tahapan pra-skrining SHK dapat terus dilakukan dalam kegiatan Posyandu sehingga informasi mengenai pentingnya skrining bayi baru lahir semakin luas diterima masyarakat.
Kegiatan Pengmas ini melibatkan tiga orang dosen dan tiga orang mahasiswa dalam pelaksanaannya. Selain edukasi, tim juga menggunakan lembar balik sebagai media pendidikan kesehatan yang diberikan kepada kader dan telah digunakan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi.
Monitoring dan evaluasi tahap ketiga direncanakan dilaksanakan pada Agustus 2026 di dua Posyandu sebagai bagian dari tahapan keberlanjutan program.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran tentang deteksi dini hipotiroid kongenital dan mendukung terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.













